Ashar 24/08/05
Ayunkan langkah-langkah tertatih
Jejak-jejak yang sarat
Arungi waktu pada asa berselubung kabut
Lalui garis nasib mengambang
Pikul takdir titah sang khalik
Yang menghembuskan nafs pada desah nestapa
‘ku’ galau menanti sinar surya
Tengadahku aminkan ajal pada maut
09/09/05 19:13:18
Terlahir dipangkuan derita
Dibuai sengsara
Diasuh oleh nasib miris
Bak pohon kering ditiup angina luruh dedaunan
Surya tak lagi menjadi sahabat
Air bahkan menjadi racun
Tanah meronga
Cipta lorong-lorong bagi maut
Surya hanya gumaman
Sengau tak berarti
Menggema tak terdengar
Sebab telinga-telinga menjadi tuli oleh keserakahan
Alam menjadi kafan bagi mayat-mayat
Iba berubah tega
Kasih menjadi kejam
Sebab dunia telah menjadi jebakan bagi petaka
Jeritku tak bersuara
09/09/05 23:49:54
Ketika tangan-tangan alam
tak lagi memeluk kita dengan mesra
kini berubah menjadi cengkraman
jebakan-jebakan bencana
pada petaka tak berkesudahan
sebab warna langit menganga
da tanah memerah kehitaman oleh darah
bau busuk yang menyengat dari mayat bergelimpangan
bumi bahkan rekah
dan awan putih menjadi menjadi kafan bagi kurban tumbal
penguasa kelaliman
rahwan-rahwana modern memekosa pertiwi
dictator-diktator telanjangi alam
kita berdiri ditanah Lumpur bumi
yang bercampur dengan serpihan daing insani
aku terbenam hingga leherku tercekat
sekarat..
cinta telah lalui kita

bgus bget......
BalasHapusmewakili perasaan q