Sabtu, Februari 07, 2009

Puisi Robert Nainggolan

Ashar 24/08/05

Ayunkan langkah-langkah tertatih

Jejak-jejak yang sarat

Arungi waktu pada asa berselubung kabut

Lalui garis nasib mengambang

Pikul takdir titah sang khalik

Yang menghembuskan nafs pada desah nestapa

‘ku’ galau menanti sinar surya

Tengadahku aminkan ajal pada maut


09/09/05 19:13:18

Terlahir dipangkuan derita

Dibuai sengsara

Diasuh oleh nasib miris

Bak pohon kering ditiup angina luruh dedaunan

Surya tak lagi menjadi sahabat

Air bahkan menjadi racun

Tanah meronga

Cipta lorong-lorong bagi maut

Surya hanya gumaman

Sengau tak berarti

Menggema tak terdengar

Sebab telinga-telinga menjadi tuli oleh keserakahan

Alam menjadi kafan bagi mayat-mayat

Iba berubah tega

Kasih menjadi kejam

Sebab dunia telah menjadi jebakan bagi petaka

Jeritku tak bersuara


09/09/05 23:49:54

Ketika tangan-tangan alam

tak lagi memeluk kita dengan mesra

kini berubah menjadi cengkraman

jebakan-jebakan bencana

pada petaka tak berkesudahan

sebab warna langit menganga

da tanah memerah kehitaman oleh darah

bau busuk yang menyengat dari mayat bergelimpangan

bumi bahkan rekah

dan awan putih menjadi menjadi kafan bagi kurban tumbal

penguasa kelaliman

rahwan-rahwana modern memekosa pertiwi

dictator-diktator telanjangi alam

kita berdiri ditanah Lumpur bumi

yang bercampur dengan serpihan daing insani

aku terbenam hingga leherku tercekat

sekarat..

cinta telah lalui kita

puisi nya bagus,hemm... selevel Bang Chairil... thanks bro...

1 komentar: